Get Adobe Flash player
Logo Wonderful Indonesia

Hotel

Quick Link

Kaltim Prov. Website

Disbudpar Provinsi Kaltim

Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Indonesia

Cagar Budaya

PASER

Meriam Peninggalan Jepang

Objek wisata ini merupakan peninggalan bersejarah pada masa penjajahan Jepang, di Kabupaten Penajam Paser Utara khususnya di Kelurahan Gunung Steleng, yang berupa benda peninggalan sejarah yaitu meriam yang dipergunakan sebagai alat pertempuran pada masa penjajajhan Jepang.

 

Batu Indra Giri Meriam Portugis

Tidak jauh dari Museum Sadurangas, dapat ditemukan Batu Indra Giri dan beberapa Meriam Portugis. Batu Indra Giri adalah batu yang dibawa oleh tim ekspedisi penyebaran agama Islam dari Kerajaan Demak bernama Abu Mansyur Indra Jaya. Disekitar Batu Indra Giri dapat pula ditemukan Meriam Portugis yang merupakan sebagian peninggalan Raja-Raja pada zaman dahulu.

 

Samarinda

Klenteng Thien Ie Kong

Kelenteng Thien Ie Kong yang berada di Samarinda dan dibangun sejak jaman penjajahan Belanda. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1905 tersebut masih berdiri kokoh walaupun pernah hampir terkena  bom Jepang yang dijatuhkan untuk menghancurkan pabrik pengolahan minyak goreng yang berada dibelakang kelenteng, Kelenteng yang berada di Jalan Yos Sudarso Samarinda terletak di  muara Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam ini bahan bangunannya  terbuat dari kayu yang  didatangkan khusus dari negeri Cina. Bahkan, rangkaian bangunan sudah dibuat dari negeri asalnya.

Di Samarinda, kayu-kayu tersebut dirangkai menjadi satu. Uniknya, sambungan rangka tiang pada bangunan ini tidak menggunakan paku dari besi. Semuanya menggunakan pasak kayu, bahkan  engsel pintu pun terbuat dari kayu. “Kelenteng ini tidak saja selalu ramai oleh wargaTionghoa, tetapi juga masyarakat yang sekitar yang ingin bersantai di bagian belakang klenteng. Para orangtua sering melakukan pertemuan di gazebo dan para remaja berolahraga,” jelas Sugeng Haryono.(vb/yul)

 

Masjid Shiratal Mustaqiem

Pada tahun 1880, Said Abdurachman bin Assegaf dengan gelar Pangeran Bendahara, seorang pedagang muslim dari Pontianak, datang ke Kesultanan Kutai. Ia memilih kawasan Samarinda Seberang sebagai tempat tinggalnya dan ditanggapi oleh Sultan Kutai saat itu,Aji Muhammad Sulaiman setelah melihat ketekunan dan ketaatan Said Abdurachman dalam menjalankan syariat Islam.

Pada masa itu, Samarinda Seberang cukup dikenal sebagai daerah arena judi, baik sabung ayam pada siang hari atau pun judi dadu pada malam hari. Selain itu, peredaran minuman keras juga marak di kawasan Samarinda Seberang sehingga menimbulkan keresahan warga sekitar, karena bisa merusak citra Samarinda Seberang sebagai syiar Islam. Warga kampung hampir tak ada yang berani ke kawasan ini karena takut. Namun, Pangeran Bendahara mendatangi mereka untuk mengajak menjalankan syariat Islam.

Pangeran Bendahara dan tokoh masyarakat setempat berunding untuk mencari jalan keluar agar Samarinda Seberang bersih dari aktivitas itu. Dalam perundingan disepakati, lahan seluas 2.028 meter persegi di sana akan didirikan masjid.

Setahun kemudian, pada 1881, empat tiang utama (soko guru) mulai dibangun oleh Said Abdurachman bersama warga. Konon katanya, berdirinya empat tiang itu karena bantuan seorang nenek misterius yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Kala itu, banyak warga yang tak mampu mengangkat dan menanamkan tiang utama. Berkali-kali dilakukan, tetap saja gagal. Beberapa menit kemudian, datanglah seorang perempuan berusia lanjut. Dengan tenang dia mendekati warga yang sedang gotong royong. Nenek tadi meminta izin kepada warga untuk mengangkat dan memasang tiang. Warga yang mendengar ucapan sang nenek, langsung tertawa. Namun Said Abdurachman malah sebaliknya. Dia menyambut kedatangan nenek itu. Said pun meminta warga untuk memperkenankan si nenek untuk melakukan apa yang diinginkan. Nenek pun meminta warga dan Said Abdurachman balik ke rumah masing-masing.

Esok harinya usai salat Subuh, warga berbondong-bondong mendatangi lokasi pembangunan masjid. Seperti tak percaya, empat tiang utama telah tertanam kokoh. Warga pun kaget, tapi tak satu pun orang yang mampu menemukan keberadaan nenek itu. Setelah itu, Said Abdurachman dan tokoh masyarakat membangun masjid. Selama sepuluh tahun, pada 1891, atau tepat pada 27 Rajab 1311 Hijriyah, akhirnya Masjid Shirathal Mustaqiem rampung dari pengerjaannya. Sultan Kutai Adji Mohammad Sulaiman, sekaligus menjadi imam masjid pertama yang memimpin salat.

Setelah bangunan masjid rampung, pada 1901 Henry Dasen, seorang saudagar kaya berkebangsaan Belanda, memberikan sejumlah hartanya untuk pembangunan menara masjid berbentuk segi delapan, setinggi 21 meter. Menara itu berdiri tepat di belakang kiblat masjid. [wiki]

 

BALIKPAPAN 

Bunker Jepang

Dimasa dominasi nya di Kota Balikpapan, para tentara Jepang membangun Bunker-bungker pertahanan. Sebagian besar dari bungker-bunker yang ditemukan terletak di wilayah timur Kota Balikpapan (wilayah sekitar pantai Manggar dan Lamaru).

Ada 20 (dua puluh) bunker Jepang yang telah berhasil di data. 8 (delapan) diantaranya masih dalam kondisi yang utuh dan baik. Hanya saja tidak semua bunker-bunker itu bisa dikunjungi, karena sebagian dari bunker-bungker tersebut yang berada di wilayah militer (dalam area 600 raider)

 

Tugu Australia

Monumen Jepang dan Monumen Australia adalah simbol kenangan masa lampau yang melambangkan perjuangan dua negara besar untuk menduduki Kota Balikpapan.

Monumen Jepang terletak sekitar 20 km sebelah timur kota Balikpapan. Monumen ini dibangun di atas kuburan pemimpin Pasukan Jepang yang bertugas dikota Balikpapam selama perang dunia II. Monumen ini dijadikan simbol untuk keberanian tentara jepang.

Di sisi lain, monumen Australia yang dibangun dekat pusat Kota adalah monumen untuk mengingat pasukan Australia sari divisi VII yang telah gugur dalam pertempuran pada saat pendaratan di Kota Balikpapan.

 

Tugu Mathilda

Salah satu peninggalan Belanda yang paling bersejarah di Kota Balikpapan adalah sumur minyak ” Mathilda”. simur ini pertama kali dibuka pada Tahun 1897 dengan kedalaman sumur 222 meter namun akhirnya ditutup tahun 1903. Tahun dibukanya sumur Mathilda ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan.

 

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)

Monpera adalah akronim dari Monumen Perjuangan Rakyat. Tempat ini merupakan salah satu ikon Kota Balikpapan. Bertempat di Jalan Jenderal Sudirman tepat di depan Markas KODAM VI Tanjungpura, monumen ini menggambarkan perjuangan dan keberanian rakyat Indonesia ketika menghadapi penjajahan Belanda ataupun Jepang. Pengunjung juga dapat memanfaatkan tempat ini untuk membangkitkan semangat nasionalisme sambil menikmati keindahan Selat Makassar.

Monumen ini juga memiliki ruang diorama yang dibuka untuk umum di hari-hari terntentu dan panggung terbuka. Di hari-hari tertentu diadakan pertunjukan seni-budaya atau pentas kreatifitas remaja di panggung terbuka ini. [disbpp]

 

Makam Jepang

Makam Jepang ini terletak di Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur, sekitar 26 kilometer dari pusat kota. Jika menilik dari sejarahnya, pemakaman di di Lamaru Balikpapan Timur itu awalnya adalah pemakaman biasa yang ditandai dengan patok-patok kayu.

Namun makam tersebut telah tiada dan digantikan oleh tugu peringatan setinggi dua meter dari batu dengan tulisan berhuruf kanji. Tugu tersebut dibuat pada tahun 1990 sebagai tanda penghormatan kepada tentara Jepang yang gugur dalam perang dunia II. “Beberapa wisatawan dari Jepang sering datang ke sini untuk melakukan upacara penghormatan,” kata penjaga monumen tersebut.

Lokasi yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini memiliki gazebo, lokasi duduk yang nyaman, dan kamar. [robby]

 

 

 

 

BERAU

Museum Batiwakkal : Berlokasi di Gunung Tabur 

Masjid Kuno (Masjid Jami’) : Berlokasi di Gunung Tabur

Pura Agung Giri Natha : berlokasi di Sambaliung, dapat ditempuh 15 menit dari Tanjung Redeb dengan menggunakan kendaraan Roda empat. Daya tarik wisata yaitu tempat ibadah agama Hindu.

Tugu / Prasasti : berlokasi di Sambaliung, dapat ditempuh dengan 2 km dari Tanjung Redeb, dapat dicapai dengan kendaraan roda empat. Daya tarik berupa peninggalan sejarah

Terowongan Kereta Api : Berlokasi di Teluk Bayur, dapat dicapai 10 menit dari Tanjung Redeb.

 

KUTAI KARTANEGARA

Museum Mulawarman : berlokasi di tenggarong, 

Komplek Makam Raja Kutai Kartanegara : berlokasi di tenggarong disini kita dapat melihat benda peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara dan Kerajaan se-Kaltim

Kelambu Kuning : berlokasi di Kelurahan Melayu Kecamatan Tenggarong wisatawan maupun masyarakat sekitar dapat melihat makam Sultan Muslihuddin (Raja ke-15), makam Sultan M. Salahuddin (Raja ke-16), makam Sultan M. Sulaiman ( Raja ke-17), makam Sultan M. Parikesit (Raja ke-19).

Situs Mangkunegoror : berlokasi di Kelurahan Timbau Kecamatan Tenggarong wisatawan maupun masyarakat dapat melihat makam Mangkunegoro

 

 

Share & Enjoy

Share to Google Buzz
Share to Google Plus
Share to LiveJournal
EnglishFrenchGermanItalianPortugueseRussianSpanish
Visit Kaltim

Buku Tamu

You must be signed in to post a comment


Hit Counter provided by recruiting services

Kontak Online